Rumah Bisnis AA Kunto A

the great future is my right

Facebook: Smart Idea for Your Great Business

Selain sepakbola dan pemilu, demam apa lagi yang tengah meradangi Anda? Tepat sekali. Facebook. Situs jejaring sosial yang baru dirilis 5 tahun ini kini telah digandrungi puluhan juta pengguna internet di dunia. Ia demikian populer. Semua kalangan ditembusnya.

Memang, agak berlebihan jika ada olok-olok “hare genee” tidak punya account di Facebook. Kenapa? Karena tidak semua orang suka berjejaring. Karena ada cara lain untuk berjejaring. Karena belum menemukan manfaat situs ini.

Baiklah. Setiap orang punya hak dan kemerdekaan untuk menentukan cara dan alat berjeraringnya. So, orang yang tidak punya FB (demikian orang kerap menyingkatnya), belum tentu tidak memiliki kesadaran berjejaring.

Ow, kesadaran berjejaring. Sekonyong-konyong istilah aneh ini dielu-elukan di mana-mana. FB seperti semakin membuka kesadaran bahwa hidup manusia ini bertalian satu-sama-lain. Bahwa hidup kita ini tidak sendirian. Ada orang lain, bahkan banyak orang, di sekitar kita.

Saya mengamini fakta tersebut. Fakta? Ya, fakta. Meski FB bergentayangan di dunia maya, dunia yang tidak terjamah, namun FB memiliki “fakta”-nya sendiri. Apa itu? Data!

Nah lo! Otak bisnis ini langsung bekerja begitu kata itu muncul. Gila memang. Untuk seorang pebisnis, kemewahan apa lagi yang bisa didapat selain data customer? So, kalau euforia FB ini cuma jadi sarana ber-ha-ha-hi-hi, sayang sekali. FB adalah tool marketing yang amat istimewa. Coba kita cicipi keistimewaannya.

1. Personal: Hanya orang yang dikenal, dan disetujui menjadi teman, yang bisa mengakses informasi satu sama lain. Ini beda dengan situs jejaring sosial lain sebelumnya. Dan di antara yang sudah berteman itu ada banyak fasilitas untuk untuk bertegur sama. Jika mau orang luar tahu, ya tinggalin pesan di wall atau comment status. Atau bikin catatan khusus. Sedangkan jika mau personal, bisa gunakan fitur message dan chatting.

Untuk bisnis, akses yang amat personal ini sangat bermanfaat bagi jasa atau produk yang bersifat customize. Sifat bisnis ini menuntut pola relasi personal. Tatap muka. Tahu wajah. Kenal hati. Satu hobi. Sama minat. Dan ini bisa diakomodasi oleh fitur grup yang disediakan situs ini. Dengan tergabung pada grup tertentu, kita akan merasa “satu” dengan anggota grup lain. Nah, pengandaian ini sangat membantu kita dalam mendekati calon klien. Ya, pendekatan yang bersifat personal. Berangkat dari “kebutuhan dia”, bukan berangkat dari “yang saya jual”.

2. Nostalgif: Berapa banyak orang berkesaksian betapa amazing-nya situs jejaring sosial ini berkat pertemuan mereka dengan teman lama? Apa artinya ini? Bahwa semaju-majunya orang, bahkan yang mengklaim diri sebagai manusia super modern di zaman ini, keterikatan terhadap masa lalu tetap ada. Ada yang sekadarnya, ada yang begitu mengakar. Banyak orang menyimpan ingatan emas di masa lalunya, dengan teman sekolah, teman bermain, tempat kerja lama. Inilah siklus misterius kehidupan. Bahwa semakin ke depan kita melangkah, ada kecenderungan untuk kembali ke langkah sebelumnya. Bukan. Bukan untuk sepenuhnya kembali ke masa lalu, melainkan sekadar sebagai batu pijakan untuk melesat ke depan.

Untuk bisnis, ini peluang yang luar biasa. Bahwa kebutuhan konsumen bukan sekadar apa yang mereka “belum punya”, melainkan juga apa yang “sudah mereka punya dan hilang” atau “belum punya di masa lalu dan ingin mempunyainya di masa depan”. Dari daftar teman yang ada, sekolah mereka, kota masa kecil, kebiasaan masa kecil, kita bisa membaca apa saja cita-cita konsumen kita, terutama yang belum terwujud. Hmmm, dari komentar-komentar di FB, betapa banyak yang kangen dengan masakan khas kotanya, mainan-mainan semasa belum sekolah, atau bacaan/film semasa tinggal bersama orangtua. Peluang, bukan?

3. Konektif: FB membuka kesadaran, betapa banyak teman kita. Jika ternyata kita sekarang memiliki 5.000 teman, bukan dengan sekali klik kita merangkul mereka. Kita hanya perlu mengundang satu-dua teman yang sudah kita tahu. Dari mereka, kita menemukan teman lain yang ternyata sudah berteman dengan teman kita. Begitu seterusnya. Inilah efek pengungkitan (leverage effect) dari situs jejaring sosial kita.

Untuk bisnis, ini menggampangkan kita dalam menyasar target konsumen tertentu. Jika kita tidak kenal dengan target itu secara langsung, selain mengundangnya secara langsung lewat fitur searching, kita juga bisa mengundangnya lewat jalur teman yang sudah kita kenal. So, cara ini mewariskan pesan kepada kita untuk tidak putus akal dalam menjangkau target konsumen yang belum kita kenal sebelumnya.

4. Informatif: Selain personal, kekuatan FB ada pada informasinya. Jika kita sudah menjadi teman, maka kita bisa mengakses banyak informasi dari teman tersebut: nama, tanggal lahir, hobi, minat, status perkawinan, tujuan berjejaring, pekerjaan, tokoh favorit, dll. Aha, dari data itu, pemetaan akan kebutuhan mereka menjadi begitu jelas. Ini meminimalkan kesalahan dalam penembakan. Sebaliknya, mengoptimalkan kekuatan amunisi untuk menembak tepat sasaran. “Loh, kok Anda tahu saya suka coklat?” Ffffiuw, asyik bukan kalau konsumen kita tersanjung sedemikian rupa? Apa yang tidak mungkin ketika konsumen kita merasa dipahami?

5. Ekspresif: Lewat fitur status, wall, maupun comment lainnya, setiap pemilik account FB leluasa dalam mengungkapkan isi hatinya. Mau sedih, silakan. Mau tertawa, silakan. Mau ngomongin sandal jepit yang ketuker, tak ada yang protes. Mau ngomel sama sopir yang ugal-ugalan, paling diketawain orang hehehe. Dan lihatlah, betapa banyak yang justru mengungkapkan hal-hal yang tampak remeh-temeh di accountnya. Ekspresif, dan karenanya “anti jaim alias jaga image”.

Untuk bisnis, apa lagi yang kita harapkan ketika kita sudah kenal dekat ekspresi konsumen kita? Keakraban. Dan begitu akrab, kita menjadi teman. Begitu sampai di level ini, kita tidak perlu lagi berjualan. Karena kita bukan orang lain di mata konsumen. Kita sudah bisa bercanda bersamanya. Dalam keadaan seperti ini, bahasa tidak langsunglah yang kita mainkan. Teman yang baik, tahu kebutuhan temannya. Dan teman itu akan senang karena merasa memiliki teman yang begitu mengerti. Mantap!

6. Dan ini soal target audience. FB menyederhanakan langkah kita. Survei yang begitu presisi tidak perlu kita tempuh melalui cara yang rumit dan mahal. Tidak perlu interview ke mana-mana untuk mendapatkan sampling. Di depan mata sudah ada target audience yang jelas. Apa lagi yang menghalangi pelaku bisnis ketika need of target audience begitu kasat mata?

Maka, mulailah gunakan FB untuk mengoptimalkan bisnis Anda. Facebook is a smart idea for your great business.

Salam Agung,

AA Kunto A

March 24, 2009 - Posted by | CREATIVE MARKETING | , , , , ,

1 Comment »

  1. pak kunto, bila kita bisa memanfaatkan media-media seperti fb ini. Maka salah satu tembok bisnis telah kita bangun untuk menghindar dari pesaing, dan memagari bisnis kita dari gempuran mereka.

    salam sempurna !

    Comment by budi herprasetyo | March 28, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: