Rumah Bisnis AA Kunto A

the great future is my right

Tetap Tradisional di Zaman Modern

Modernitas bukan Tuhan yang harus disembah. Menjadi modern tidak berarti meninggalkan tradisi kita sendiri. Ini juga berlaku di pemasaran. Cara berpikir boleh modern, tapi delivery strategy boleh tradisional. Lihat-lihat market-nya, bukan? Seperti kisah berikut ini:

Di mana bank buka cabang, di situ perusahaan jasa kurir ini ikut buka cabang. Lebih spesifik lagi, cabangnya pasti berlokasi di dekat stasiun kereta api. Nah, di tengah sengitnya persaingan bisnis jasa titipan, bagaimana strategi perusahaan berinisial KGP ini untuk tetap eksis?

Nama perusahaan ini tidak asing di kalangan perbankan. Utamanya bagi mereka yang berurusan dengan kirim-mengirim dokumen perbankan. Maklum, perusahaan ini dikenal sebagai penyedia jasa titipan khusus dokumen perbankan. Sampai sekarang.

Berdiri tahun 1968, perusahaan ini memang langsung membidik pasar yang sangat khusus. Drs. Murtiono Suryoputro, pendiri yang kini menjadi direktur utama, melihat peluang di balik kesibukan transaksi perbankan. Waktu itu, belum semeriah sekarang. Namun, banyak bank yang sudah membuka cabang di daerah-daerah. Belum on-line satu sama lain. Maka, bukti-bukti transaksi semuanya harus dikirim secara fisik. Dan satu-satunya jasa titipan yang sudah siap memenuhi kebutuhan itu, baru Pos Indonesia—saat itu badan usahanya belum berbentuk PT dan juga merupakan perusahaan jasa titipan yang bersifat umum.

Maka, Murtiono mendirikan CV Karya Pusaka—yang pada tahun 1972 berubah nama menjadi PT Kerta Gaya Pusaka (KGP) hingga kini. Waktu itu, armada yang digunakan hanya mengandalkan kereta api. Belum zaman pesawat seperti sekarang. Meski begitu, KGP telah berani menjanjikan one day delivery terutama untuk pengiriman di wilayah Pulau Jawa. Maklum, dengan menumpang kereta, berangkat sore, sampai di tujuan keesokan harinya. Dan dokumen langsung diantar ke alamat yang dituju.

Kereta api menjadi moda pengangkutan utama. Tak heran jika logo KGP hingga sekarang adalah “kuda terbang”—logo yang dulu pernah dipakai Perusahaan Jawatan Kereta Api sebelum jadi PT. Ya, karena pendirinya orang PJKA.

IK Kiptianto, Operation Manager PT Kerta Gaya Pusaka, menuturkan bahwa kereta api menjadi inspirasi bagi perusahaan tersebut untuk memperkuat lini distribusi. Jika sewaktu bergabung dengan perusahaan ini tahun 1979, ia masih mengantarkan dokumen di Denpasar dengan mengayuh sepeda onthel, kini perusahaan tersebut telah memodernkan pengangkutannya dengan sepeda motor, mobil boks, dan truk. Lini distribusi ini diperkuat oleh 2.000 karyawan; dua pertiganya kurir. Mereka tersebar di 206 cabang di 1.600 kota di Indonesia.

Persebaran distribusi ini memang diakui untuk mengimbangi kekuatan distribusi PT Pos Indonesia yang sudah merangsek hingga ke tingkat kecamatan. Sedangkan KGP baru sanggup masuk ke tingkat kabupaten/kota—karenanya berani mengklaim sebagai jasa titipan kedua setelah BUMN itu. Selain itu, persebaran cabang itu juga untuk mengiringi perbankan yang juga membuka cabang hingga ke pelosok. Saya sudah membuktikan. Sewaktu bertugas ke Maumere, Flores, nama perusahaan ini sangat dikenal di sana. Perusahaan jasa pengiriman yang lain belum ada.

Kini, kata Kiptianto, KGP tidak lagi memposisikan dirinya sebagai perusahaan jasa titipan khusus dokumen perbankan, khususnya bank milik pemerintah. Ia telah merambah ke perusahaan-perusahaan umum. Hanya satu yang tidak berubah, sifat bisnisnya tetap B2B (business to business). Dari keseluruhan market perusahaan, separuhnya masih sumbangan dari perbankan, termasuk vendornya. Sisanya tersebar merata ke perusahaan-perusahaan umum. “Hanya 5% yang retail. Itu pun karena sifatnya membantu relasi saja. Ini pun kami bersikukuh tidak melayani city courier, kewalahan,” ungkap Kiptianto.

Pernyataan “membantu relasi” itu tampaknya sepele, basa-basi bisnis. Namun, setelah ditelusuri memang perusahaan ini sangat kental unsur kekeluargaannya. Meskipun dijalankan secara profesional, namun pada intinya semangat bisnisnya masih tradisional. Hal ini terlihat sewaktu saya menanyakan tentang penggunaan teknologi informasi di perusahaan tersebut. Pertanyaan ini wajib diajukan mengingat dalam persaingan bisnis jasa titipan, faktor kecepatan dan ketepatan waktu menjadi sangat penting. Apalagi untuk dokumen berharga. Teknologi informasi telah menjadi kunci dalam pelayanan perusahaan modern. Acapkali klien menanyakan posisi dokumennya sampai di mana sebelum tiba di tujuan akhir. Dengan teknologi mutakhir, posisi itu bisa dilacak dengan sangat mudah, cepat, dan murah.

Kiptianto tersenyum-senyum saat ditanyai itu. Menurutnya, perusahaan tetap mengikuti perkembangan teknologi. Namun, bukan berarti teknologi menjadi segala-galanya. “Kami lebih komit pada sumber daya manusia. Kami tidak mau mem-PHK karyawan hanya karena pekerjaan mereka bisa digantikan seperangkat komputer. Kami tidak tega, di belakang mereka kan ada istri dan anak yang butuh makan…,” papar Kiptianto. Menurutnya, alat telekomunikasi yang ada seperti telepon dan facsimile masih memadai. Memang mahal, tapi lebih murah daripada “mematikan” rezeki karyawan, kilahnya. “Maklum, perusahaan kami tidak padat modal, tapi padat karya,” guraunya.

Walau tampak konservatif, namun bukan berarti perusahaan ini tidak sadar pelayanan. Sadar. Dan unik. Bagi kebanyakan perusahaan, pencantuman nomor telepon seluler sudah dianggap cukup mencerminkan bahwa mereka mau “diganggu” 24 jam. Dan memang begitu. Namun, bagi KGP itu belum cukup. KGP seolah menjadikan perusahaan melekat dalam diri karyawan setiap saat. Di setiap kartu nama mereka, selain tertera alamat perusahaan, nomor telepon seluler, juga terpajang dengan gamblang alamat rumah berikut nomor teleponnya. Tanpa e-mail. “Kami memang dibiasakan mencintai pekerjaan. Maka, kami siap dihubungi kapan pun, di mana pun,” tandas Kiptianto.

Kecintaan terhadap pekerjaan dan perusahaan itu yang barangkali menjadikan KGP bisa bertahan di tengah arus persaingan dewasa ini. Pelayanan yang all out itu merupakan salah satu upaya untuk menang bersaing. Sekarang, kata Kiptianto, meski cara bertransaksi perusahaan modern sudah demikian maju, KGP yakin akan tetap mendapatkan kue. Ia mencontohkan, masih akan ada dokumen seperti kartu kredit yang harus dikirimkan secara fisik, yang dengan begitu membutuhkan jasa mereka.

Antisipasi yang dilakukannya adalah dengan mengasuransikan dokumen yang mereka kirimkan. “Kami tidak pernah sekali pun memberikan diskon, karena kami memberikan jaminan keutuhan akan dokumen yang dikirim. Lagi pula strategi diskon hanya akan menurunkan image kami sebagai perusahaan yang terpercaya. Lebih baik obral pelayanan ketimbang obral diskon,” tukasnya. Yang unik, penentuan tarif bukan didasarkan atas jenis-jenis dokumen, tapi tetap dilandaskan pada berat kiriman, kota tujuan, dan jenis pengiriman. “Karena semua dokumen itu pasti penting,” tandas Kiptianto.

Salam Agung,

AA Kunto A

[artikel ini pernah dimuat di Majalah Marketing dan Kompas.com]

March 4, 2009 - Posted by | CREATIVE MARKETING |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: